artikel rindu haramain 40

Tata Cara Tawaf yang Benar Sesuai Sunnah

Saat Hati Berputar Mengelilingi Ka’bah

Ada satu momen yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata… ketika langkah kaki mulai mengelilingi Ka’bah. Di tengah jutaan manusia, kita berjalan dalam satu arah, satu tujuan, satu harapan.

Di sanalah hati terasa kecil… namun justru semakin dekat dengan Allah.

Banyak orang datang dengan rasa rindu haramain, membawa doa-doa yang lama terpendam. Namun di balik rasa itu, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: thawaf harus dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Karena ibadah yang benar bukan hanya yang menyentuh hati… tetapi juga yang sesuai sunnah.


Pengertian Tawaf Secara Bahasa dan Istilah

Secara bahasa, tawaf berasal dari kata:

طَافَ – يَطُوفُ yang berarti berputar mengelilingi sesuatu.

Adapun secara istilah syar’i:

tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran dengan niat ibadah kepada Allah, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di tempat yang sama.


Dalil Tentang Tawaf

Allah ﷻ berfirman:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Dan hendaklah mereka melakukan tawaf di rumah yang tua (Ka’bah).”
(QS. Al-Hajj: 29)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku tata cara ibadah kalian.”
(HR. Muslim)

Imam An-Nawawi رحمه الله berkata:
“Hadits ini menunjukkan wajibnya mengikuti tata cara ibadah sesuai sunnah Rasulullah ﷺ.”


Tata Cara Tawaf yang Benar

Agar ibadah kita sah dan diterima, berikut urutan tawaf sesuai sunnah:


1. Niat Tawaf

Niat dilakukan dalam hati saat memulai thawaf.

Tidak perlu dilafalkan secara khusus, karena Rasulullah ﷺ tidak mencontohkannya.


2. Memulai dari Hajar Aswad

Thawaf dimulai dari Hajar Aswad.

Disunnahkan:

  • Menghadap Hajar Aswad
  • Mengangkat tangan
  • Mengucapkan:

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُ أَكْبَرُ

_”Dengan nama Allah, Allah Maha Besar.”


3. Melakukan 7 Putaran

Thawaf dilakukan sebanyak 7 putaran dengan Ka’bah di sebelah kiri.

Bagi laki-laki:

  • Disunnahkan raml (berjalan cepat) pada 3 putaran pertama
  • Idhtiba’ (membuka bahu kanan)

Selama thawaf, dianjurkan memperbanyak dzikir dan doa.


4. Membaca Doa di Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad

Disunnahkan membaca:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.”
(QS. Al-Baqarah: 201)


5. Menjaga Adab Saat Tawaf

Dalam pelaksanaan thawaf, seorang jamaah tidak hanya dituntut untuk menyempurnakan tujuh putaran secara teknis, tetapi juga menjaga adab-adab yang menjadi inti dari ibadah tersebut. Karena pada hakikatnya, thawaf bukan sekadar gerakan fisik mengelilingi Ka’bah, melainkan ibadah hati yang menuntut kekhusyukan, ketenangan, dan kesadaran penuh akan kehadiran di hadapan Allah.

Beberapa adab yang perlu diperhatikan saat thawaf di antaranya:

  • Menjaga kekhusyukan, dengan menyadari bahwa momen thawaf adalah kesempatan langka yang menjadi cita-cita jutaan umat muslim di seluruh dunia
  • Tidak menyakiti jamaah lain, baik dengan dorongan, sikap tergesa-gesa, maupun ucapan yang tidak baik
  • Menghindari berdesakan secara berlebihan, terutama jika berpotensi membahayakan diri sendiri atau orang lain
  • Berusaha menatap Ka’bah dengan penuh penghayatan sebagai pusat ibadah dan simbol tauhid
  • Tidak membelakangi Ka’bah dengan sengaja tanpa kebutuhan yang dibenarkan
  • Memastikan posisi Ka’bah selalu berada di sebelah kiri pundak selama thawaf berlangsung
  • Menghindari banyak berbicara dengan teman, kecuali dalam hal yang diperlukan, agar hati tetap fokus dalam ibadah

Dengan menjaga adab-adab ini, seorang jamaah tidak hanya menyempurnakan thawaf secara lahir, tetapi juga menghadirkan nilai ibadah secara batin.


6. Shalat 2 Rakaat di Belakang Maqam Ibrahim

Setelah thawaf, disunnahkan shalat dua rakaat.

Allah ﷻ berfirman:

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

“Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.”
(QS. Al-Baqarah: 125)


Perbedaan Pendapat Madzhab

Para ulama dari empat madzhab memiliki beberapa rincian dalam tawaf:

  • Mazhab Syafi’i
    Niat cukup dalam hati, tidak perlu dilafalkan
  • Mazhab Hanafi
    Membolehkan niat dilafalkan untuk membantu hati
  • Mazhab Maliki
    Menekankan kekhusyukan dalam setiap putaran
  • Mazhab Hambali
    Sejalan dengan jumhur dalam tata cara

Ketika Hidup Berputar Hanya untuk Allah

Jika kita renungkan lebih dalam, tawaf bukan sekadar berjalan mengelilingi Ka’bah.

Ia adalah simbol kehidupan.

Sebagaimana kita berputar mengelilingi Ka’bah, seharusnya hidup kita pun berputar hanya untuk Allah. Bukan untuk dunia, bukan untuk manusia, tetapi untuk Rabb yang menciptakan kita.

Saat itulah rasa rindu haramain terasa semakin dalam… bukan hanya rindu tempatnya, tetapi rindu untuk kembali dekat dengan Allah.

Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
“Tawaf adalah gambaran hati yang berputar mengelilingi cinta kepada Allah.”


Jangan Hanya Berputar, Tapi Mendekat

Banyak orang thawaf…
namun tidak semua merasakan kedekatan.

Karena yang berputar bukan hanya kaki…
tetapi hati.

Maka ketika Allah memberi kesempatan datang ke tanah suci melalui rindu haramain, jangan sia-siakan dengan ibadah yang tidak dipahami.


Wujudkan Rindu Itu Bersama Rindu Haramaen

Jika hari ini hati Anda merasakan rindu haramain, itu adalah panggilan yang sangat istimewa. Jangan hanya menjadi rindu yang tertunda.

Bersama Rindu Haramaen, kami tidak hanya mengantarkan perjalanan, tetapi membimbing setiap ibadah agar sesuai sunnah dan penuh makna.

Karena kami memahami bahwa rindu haramain bukan sekadar perjalanan… tetapi perjalanan menuju Allah.


📞 Konsultasi GRATIS & Reservasi Umrah/Haji:
👉 0852-8000-9223

Jangan tunda rindu haramain Anda…
karena belum tentu kesempatan ini datang dua kali.

Umroh bersama Rindu Haramaen:

“Rasakan perjalanan spiritual yang menenangkan dan penuh makna bersama Rindu Haramaen. Dengan bimbingan ibadah yang amanah, pelayanan terbaik, serta pendampingan sejak persiapan hingga kepulangan, kami siap membersamai setiap langkahmu menuju Baitullah. Berangkatlah ke tanah suci dengan hati yang tenang, ilmu yang cukup, dan harapan menjadi tamu Allah yang diterima.”