artikel 11

Kesalahan Jamaah Saat Tawaf

Saat Hati Mengelilingi Baitullah

Banyak jamaah yang menangis ketika pertama kali melihat Ka’bah. Hati bergetar, dada terasa sempit oleh haru, dan kaki perlahan melangkah mengelilingi rumah Allah. Tawaf bukan sekadar berjalan mengitari bangunan suci, tetapi ibadah yang sarat makna: seorang hamba memusatkan seluruh hatinya hanya kepada Allah.

Namun karena padatnya jamaah dan kurangnya pemahaman fiqih, sering terjadi kesalahan saat tawaf yang tanpa disadari mengurangi kesempurnaan ibadah.


Dalil Tentang Tawaf

Rasulullah ﷺ bersabda:

الطَّوافُ بالبيتِ صلاةٌ إلَّا أنَّ اللَّهَ قد أحلَّ لكم فيهِ الكلامَ فمن تكلَّمَ فلا يتَكَلَّمْ إلَّا بخيرٍ

“Tawaf di sekeliling Baitullah itu seperti shalat. Hanya saja Allah membolehkan kalian berbicara di dalamnya. Maka barang siapa berbicara ketika tawaf, hendaklah ia tidak berbicara kecuali dengan perkataan yang baik.”
(HR. Tirmidzi)

Makna hadits ini adalah bahwa tawaf memiliki kedudukan ibadah yang sangat mulia, hampir seperti shalat dalam hal adab, kekhusyukan, dan menjaga lisan. Karena itu para ulama menganjurkan agar ketika tawaf seseorang memperbanyak dzikir, doa, dan membaca Al-Qur’an, serta menghindari percakapan yang tidak bermanfaat.

Hadits ini menunjukkan bahwa tawaf adalah ibadah yang agung sehingga harus dilakukan dengan penuh adab, kekhusyukan, dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ.

Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما berkata:

“Sesungguhnya tawaf di sekitar Ka’bah adalah salah satu bentuk dzikir kepada Allah.”
(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi)

Karena itu, para ulama menekankan pentingnya menjaga adab dan tata cara yang benar saat tawaf.


Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Tawaf

Beberapa kesalahan yang sering dilakukan jamaah antara lain:

1. Memulai tawaf tidak dari Hajar Aswad
Padahal tawaf harus dimulai dari garis sejajar dengan Hajar Aswad.

2. Berdesak-desakan untuk mencium Hajar Aswad
Padahal jika tidak memungkinkan cukup dengan isyarat tangan sebagaimana sunnah Nabi ﷺ.

3. Menganggap ada doa khusus setiap putaran
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan:

“Tidak ada doa tertentu yang wajib pada setiap putaran tawaf.”
(Al-Majmu’)

4. Banyak berbicara tentang hal dunia
Padahal tawaf adalah ibadah yang dianjurkan diisi dengan dzikir dan doa.

Para ulama dari empat mazhab sepakat bahwa tawaf harus dilakukan dengan niat ibadah, dimulai dari Hajar Aswad, dan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran.


Tawaf: Perjalanan Hati Mengitari Tauhid

Ketika seorang muslim bertawaf, sejatinya ia sedang mengitari simbol tauhid yang telah berdiri sejak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Di tempat itulah doa-doa dipanjatkan, dosa-dosa diharapkan diampuni, dan hati kembali dekat kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita kesempatan untuk berdiri di hadapan Ka’bah, mengelilinginya dengan hati yang penuh khusyuk dan kerinduan.


📞 Ingin berkonsultasi atau merencanakan perjalanan umrah?
Silakan hubungi tim Rindu Haramaen

InsyaAllah kami siap membantu perjalanan ibadah Anda menuju Baitullah dengan bimbingan yang sesuai sunnah.

Website resmi: rinduharamaen.com