artikel rindu haramain 57

Tata Cara Melempar Jumrah dalam Ibadah Haji

Menghayati Makna Lempar Jumrah di Tanah Suci

Di tengah panasnya Mina, di antara jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia, ada satu amalan yang tampak sederhana, yaitu melempar batu. Namun jika direnungkan lebih dalam, amalan ini menyimpan makna tauhid, ketundukan, dan perlawanan terhadap godaan setan.

Ketika seorang jamaah berdiri di hadapan jumrah sambil menggenggam kerikil kecil, sejatinya ia sedang menghidupkan kembali jejak Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang dengan penuh ketaatan melempar setan. Maka di titik ini, rindu haramain tidak lagi sekadar keinginan untuk datang, tetapi berubah menjadi perjalanan hati yang ingin tunduk sepenuhnya kepada Allah.

Bersama travel rindu haramaen, setiap ibadah tidak hanya dilakukan, tetapi juga dipahami. Karena rindu haramain sejatinya adalah tentang menghadirkan hati dalam setiap rangkaian ibadah.


Pengertian Lempar Jumrah Secara Bahasa dan Istilah

Secara bahasa, kata jumrah berasal dari “jamrah” yang berarti batu kecil atau kerikil. Adapun secara istilah dalam syariat, jumrah adalah tempat melempar batu di Mina sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Dengan demikian, lempar jumrah bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi bagian dari manasik yang memiliki dasar kuat dalam syariat Islam.


Dalil Tentang Lempar Jumrah

Rasulullah ﷺ bersabda:

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku tata cara manasik (haji) kalian.”
(HR. Muslim)

Selain itu, Allah berfirman:

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang berbilang.”
(QS. Al-Baqarah: 203)

Para ulama menjelaskan bahwa hari-hari di Mina termasuk dalam ayat ini, sehingga lempar jumrah menjadi bagian dari dzikir dan ketaatan kepada Allah.


Waktu dan Urutan Melempar Jumrah

Pada hari ke-10 Dzulhijjah, yaitu hari Idul Adha, jamaah melempar Jumrah Aqabah sebanyak tujuh kali. Waktu pelaksanaannya dimulai setelah terbit matahari dan berlanjut hingga malam hari.

Kemudian pada hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, jamaah melempar tiga jumrah. Urutannya dimulai dari Jumrah Ula, kemudian Jumrah Wustha, dan diakhiri dengan Jumrah Aqabah. Masing-masing jumrah dilempar sebanyak tujuh kali sehingga totalnya menjadi dua puluh satu lemparan setiap hari.

Mayoritas ulama menyebutkan bahwa waktu yang paling utama untuk melempar pada hari Tasyrik adalah setelah matahari tergelincir atau setelah masuk waktu Dzuhur.


Tata Cara Melempar Jumrah yang Benar

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan agar sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ.

Pertama, niat harus diluruskan semata-mata karena Allah. Lempar jumrah bukan sekadar tradisi, tetapi ibadah yang bernilai besar jika dilakukan dengan keikhlasan.

Kedua, kerikil yang digunakan sebaiknya berukuran kecil, tidak berlebihan. Ini menunjukkan bahwa yang diperintahkan adalah mengikuti sunnah, bukan melampiaskan emosi.

Ketiga, lemparan dilakukan satu per satu dan setiap lemparan disertai dengan takbir:

اللَّهُ أَكْبَرُ

Keempat, kerikil harus benar-benar masuk ke area jumrah. Hal ini penting agar lemparan tersebut sah secara syariat.


Hikmah Lempar Jumrah dalam Kehidupan Seorang Muslim

Para ulama menjelaskan bahwa lempar jumrah memiliki makna yang sangat dalam. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan:

“Hakikat dari lempar jumrah adalah menegakkan dzikir kepada Allah dan menampakkan penghambaan kepada-Nya.”

Dengan demikian, amalan ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus mampu melawan hawa nafsu, menolak godaan setan, dan menegaskan ketaatan kepada Allah dalam setiap kondisi.

Di sinilah rindu haramain menjadi semakin bermakna, karena ibadah bukan hanya gerakan lahir, tetapi juga perjuangan batin.


Perbedaan Pendapat Ulama

Dalam beberapa rincian teknis, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Madzhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali berpendapat bahwa waktu utama melempar adalah setelah tergelincir matahari, sedangkan madzhab Hanafi memberikan kelonggaran dalam waktu pelaksanaan.

Meskipun demikian, seluruh madzhab sepakat bahwa lempar jumrah adalah bagian wajib dalam ibadah haji yang tidak boleh ditinggalkan tanpa uzur.


Kesalahan yang Perlu Dihindari

Sebagian jamaah terkadang melakukan kesalahan dalam pelaksanaan lempar jumrah. Di antaranya adalah melempar dengan emosi seolah-olah sedang membenci setan secara fisik, menggunakan benda besar seperti sandal, atau tidak memperhatikan urutan jumrah.

Padahal yang dituntut dalam ibadah ini adalah ketenangan, ketundukan, dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.


Saatnya Melempar Dosa, Bukan Sekadar Batu

Di Mina, setiap lemparan bukan hanya tentang batu yang dilemparkan, tetapi tentang dosa yang ingin ditinggalkan, kesombongan yang ingin dihancurkan, dan hati yang ingin kembali bersih di hadapan Allah.

Rindu haramain bukan sekadar keinginan untuk pergi ke tanah suci, tetapi kerinduan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih taat. Bersama rindu haramaen, perjalanan ibadah Anda akan dibimbing dengan ilmu dan pemahaman yang benar, sehingga setiap langkah memiliki makna.

Jangan tunda panggilan Allah yang mungkin hanya datang sekali dalam hidup.

📲 Konsultasi dan reservasi sekarang:
👉 085280009223