artikel 24

Sunnah-Sunnah dalam Ibadah Haji

Ketika Setiap Langkah di Tanah Suci Bernilai Ibadah

Di hamparan tanah Mina, di bawah terik matahari Arafah, dan di antara jutaan manusia yang bertalbiyah, seorang jamaah haji merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan ruh menuju Allah.

Namun di balik itu semua, ada satu hal yang sering terlewat: banyak jamaah hanya fokus pada rukun dan wajib, tetapi kurang memperhatikan sunnah-sunnah haji yang justru menyempurnakan ibadah tersebut.


Pentingnya Memulai dari Miqat

Segala rangkaian ibadah haji dimulai dari miqat. Di sinilah seorang jamaah memasuki keadaan ihram sebagai tanda dimulainya ibadah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ

“Miqat-miqat itu berlaku bagi penduduknya dan bagi siapa saja yang melewatinya yang ingin berhaji atau umrah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Makna hadits ini menunjukkan bahwa miqat adalah batas syar’i yang tidak boleh dilampaui tanpa ihram.


Pengertian Sunnah dalam Haji

Secara bahasa, sunnah berarti jalan atau kebiasaan.

Secara istilah fiqih, sunnah adalah amalan yang jika dilakukan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa, namun mengurangi kesempurnaan ibadah.


Dalil Mengikuti Sunnah dalam Haji

Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

“Ambillah dariku tata cara manasik kalian.”
(HR. Muslim)

Dalil ini menjadi dasar bahwa kesempurnaan haji terletak pada mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara rinci.


Penjelasan Ulama

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

“Disunnahkan mengikuti seluruh perbuatan Nabi ﷺ dalam manasik haji, baik yang wajib maupun yang sunnah.”
(Al-Majmu’, 7/220)


Sunnah-Sunnah dalam Ibadah Haji

Beberapa sunnah yang dianjurkan dalam haji antara lain:

1. Mandi sebelum ihram

Sebagai bentuk persiapan lahir dan batin.

2. Memakai wewangian sebelum ihram

Khusus bagi laki-laki sebelum berniat.

3. Memperbanyak talbiyah

Sejak miqat hingga hari-hari haji.

4. Idhthiba’ dan raml saat tawaf qudum

Membuka bahu kanan dan berjalan cepat pada putaran awal.

5. Berdoa di Multazam

Tempat mustajab antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.

6. Memperbanyak dzikir dan doa

Terutama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.


Dalil tentang Pelanggaran Miqat

Allah Ta’ala berfirman:

وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا

“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kalian melanggarnya.”
(QS. Al-Baqarah: 229)

Dalam fiqih, melewati miqat tanpa ihram termasuk pelanggaran.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

“Barang siapa melewati miqat tanpa ihram, maka ia wajib kembali atau membayar dam.”
(Al-Mughni, 3/212)


Perbedaan Pendapat Empat Mazhab

Para ulama sepakat tentang sunnah dalam haji, namun terdapat perbedaan penekanan:

  • Hanafi: membedakan antara sunnah dan wajib dengan lebih rinci
  • Maliki: menekankan praktik penduduk Madinah
  • Syafi’i: memperinci sunnah dalam setiap tahapan manasik
  • Hanbali: mendekati pendapat Syafi’i dalam detail sunnah

Namun seluruh mazhab sepakat bahwa:
➡️ sunnah menyempurnakan ibadah
➡️ meninggalkannya tidak membatalkan, tetapi mengurangi nilai ibadah


Penutup: Haji yang Menghidupkan Sunnah

Haji bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi perjalanan menuju kesempurnaan ibadah.

Betapa banyak orang yang berhaji, namun sedikit yang benar-benar mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Dan betapa beruntungnya mereka yang menjaga setiap detail sunnah, karena di situlah letak keindahan ibadah.

Semoga Allah memberikan kita kesempatan menjadi tamu-Nya, dan membimbing kita untuk berhaji sesuai sunnah Rasulullah ﷺ.


Ingin berhaji atau umrah dengan bimbingan sesuai sunnah?

Bersama Rindu Haramaen, wujudkan perjalanan ibadah terbaik Anda menuju Baitullah.